Karya : Komar Efruan
Di Landmark Langgur senja bersuara,
merah dan putih menyatu di dada,
ibu-ibu berkebaya, bapak-bapak berbusana merah,
melangkah khidmat, menyalakan sejarah.
Nen Dit Sakmas, nama yang abadi,
penjaga hukum, penuntun hati,
Larwul Ngabal, tujuh pilar sakti,
membingkai hidup, menuntun nurani.
Uud entauk atvunad – hormati pemimpin,
lelad ain fo mahiling – hidup mesti luhur dan bening,
ul nit enwil rumud – harga diri jangan dicemari,
lar nakmot na rumud – darah manusia tak boleh terlukai.
Rek fo kilmutun – perkawinan suci dijaga,
morjain fo mahiling – perempuan diluhurkan selamanya,
hira i ni fo i ni – hak milik tetap dijaga,
sebuah pesan leluhur yang tak pernah sirna.
Thaher Hanubun bersuara lantang,
“Ini bukan sekadar seremonial yang datang,
tapi panggilan hati, ikrar abadi,
warisan leluhur harus lestari.”
Anak Kei, di manapun berada,
ingatlah tanah, darah, dan udara,
Larwul Ngabal bukan sekadar kata,
tapi cahaya penuntun sepanjang masa.
Ziarah pun kita arungi jalan,
menuju pusara leluhur yang dikenang,
Rat Siran, Famur Danar, Nen Dit Sakmas,
jiwa-jiwa agung, penyatu warisan emas.
Oh Kei, tanah persaudaraan,
akar budaya jadi kekuatan,
modern boleh datang silih berganti,
namun jati diri tak boleh terganti.

0 Komentar