Langgur, Liputan 21.com – Landmark Langgur sore ini berubah menjadi lautan warna adat. Ratusan masyarakat Kei, dengan kebaya putih bagi kaum perempuan dan busana merah bagi kaum pria, berkumpul memperingati Hari Nen Dit Sakmas ke-7. Suasana khidmat terasa ketika Bupati Maluku Tenggara, M. Thaher Hanubun, memimpin jalannya perayaan penuh makna ini. Sabtu, (6/9/10).
Hari Nen Dit Sakmas diperingati sebagai bentuk penghormatan kepada Nen Dit Sakmas, tokoh sentral lahirnya Hukum Adat Larwul Ngabal – falsafah hidup masyarakat Kei yang hingga kini menjadi pilar kebersamaan, keadilan, dan persaudaraan.
Dalam sambutannya, Bupati Thaher menegaskan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan momentum memperkuat komitmen menjaga warisan leluhur.
> “Sebagai masyarakat Kei, kita patut berbangga memiliki warisan budaya luhur yang bukan hanya pedoman hidup, tetapi juga identitas dan jati diri. Peringatan ini adalah panggilan hati untuk terus melestarikan serta mengamalkan nilai-nilai Larwul Ngabal dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” ujar Thaher disambut tepuk tangan.
Larwul Ngabal: Tujuh Pilar Moral Kei
Dalam kesempatan itu, Thaher juga mengingatkan kembali tujuh hukum adat Larwul Ngabal, di antaranya penghormatan pada pemerintah, menjaga kehormatan diri dan orang lain, melarang kekerasan, menghormati perkawinan, menjunjung martabat perempuan, serta menjamin hak kepemilikan.
“Hukum adat Larwul Ngabal memiliki kekuatan moral yang mampu menjaga harmoni, mencegah perpecahan, dan memperkokoh persaudaraan sesama anak Kei di mana pun berada,” tegasnya.
Momentum Ziarah Leluhur
Sebagai rangkaian peringatan, Pemkab Maluku Tenggara juga akan melaksanakan ziarah ke makam Rat Siran Ohoivuur, Rat Famur Danar, serta Nendit Sakmas di Ohoi Semawi pada Minggu, 7 September 2025. Agenda ini dimaksudkan untuk meneguhkan kembali penghormatan terhadap leluhur dan nilai-nilai kearifan lokal yang mereka wariskan.
Identitas dan Kebanggaan Kei
Di akhir sambutannya, Bupati Thaher berpesan agar seluruh masyarakat Kei senantiasa menjaga nilai adat dalam setiap langkah kehidupan.
> “Modernisasi boleh datang, tetapi jangan sampai kita kehilangan akar budaya. Inilah kebanggaan yang harus kita jaga bersama,” tutupnya.
Peringatan Hari Nen Dit Sakmas ke-7 ini menjadi momentum kebangkitan semangat adat Kei: hidup rukun, menjunjung martabat, dan menjaga warisan leluhur sebagai identitas tak ternilai masyarakat Maluku Tenggara.

0 Komentar