Pesan itu disampaikan Sakti Wahyu Trenggono saat menghadiri peluncuran kerja sama penangkapan ikan melalui skema Technical Cooperation Guidelines (TCG) Indonesia–Tiongkok di Kota Tual, Maluku, Kamis (24/9/2026).
Menurut Trenggono, kerja sama ini merupakan bagian dari hubungan maritim Indonesia dan Tiongkok yang lebih luas. Ia menyebut investasi Tiongkok di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi dan Maluku Utara, telah berkembang melalui pembangunan perusahaan dan kawasan industri yang menciptakan aktivitas ekonomi serta lapangan pekerjaan.
Kini, kata dia, peluang serupa dibuka di Tual dan Maluku Tenggara.
“Di Tual ini atau Maluku Tenggara akan ada kerja sama penangkapan ikan, pengolahan ikan dan seterusnya, karena sumber daya ikan di wilayah ini sangat luar biasa,” ujar Trenggono.
LIMA TAHUN PERJUANGAN BUKA KEMBALI POTENSI PERIKANAN
Trenggono mengungkapkan, proses membuka kembali peluang kerja sama dan investasi perikanan tersebut bukan perjalanan singkat.
Ia mengatakan dirinya mulai hadir dan terlibat dalam proses tersebut sejak 2021. Berbagai regulasi dan negosiasi harus dilakukan untuk membangun kembali kepercayaan dan meyakinkan investor agar mau bekerja sama dengan Indonesia.
Menurutnya, proses tersebut membutuhkan waktu sekitar lima tahun hingga akhirnya kerja sama dapat mulai berjalan.
Trenggono juga menyinggung besarnya potensi kelautan Indonesia yang menurutnya belum sepenuhnya menghasilkan nilai ekonomi yang sebanding dengan kekayaan sumber daya yang dimiliki.
Ia menyebut produksi perikanan Indonesia sekitar 13 juta ton, ditambah produksi rumput laut sekitar 11 juta ton. Sementara nilai ekspor perikanan yang disebutnya mencapai sekitar 6,5 miliar dolar AS.
Bagi Trenggono, angka tersebut masih menunjukkan ruang yang sangat besar untuk pengembangan sektor kelautan dan perikanan Indonesia.
TUAL DIBIDIK JADI PUSAT INDUSTRI
Karena itu, Menteri KKP meminta Maluku tidak sekadar menjadi lokasi penangkapan ikan.
Ia ingin hasil tangkapan dapat diolah di daerah, sehingga nilai tambah, investasi dan lapangan pekerjaan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Harapannya satu dua tahun yang akan datang, pada saat saya kembali lagi di sini, ini sudah menjadi kota industri perikanan yang terbaik di Maluku,” tegasnya.
Target tersebut tidak hanya diarahkan untuk Kota Tual. Trenggono mengatakan pengembangan juga akan didorong ke sejumlah wilayah lain di Maluku yang memiliki potensi kelautan dan perikanan.
Ia juga meminta perhatian terhadap masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil karena sebagian besar menggantungkan kehidupan pada laut.
BUDIDAYA DAN RUMPUT LAUT JADI PERHATIAN
Selain perikanan tangkap, pemerintah juga akan mendorong pengembangan budidaya laut dan rumput laut dalam skala yang lebih besar.
Trenggono menilai pengembangan rumput laut di Indonesia masih banyak dilakukan secara tradisional sehingga perlu disentuh dengan teknologi dan skala usaha yang lebih signifikan.
Pengembangan tersebut, kata dia, akan menjadi bagian dari strategi memperkuat ekonomi masyarakat pesisir sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas kelautan.
Namun, pembangunan industri perikanan tetap harus berjalan seiring dengan prinsip keberlanjutan.
Trenggono menekankan pentingnya penerapan kebijakan ekonomi biru, termasuk perlindungan kawasan konservasi dan ekosistem laut.
Ia mengingatkan pencemaran laut, terutama sampah plastik yang berubah menjadi mikroplastik, dapat merusak ekosistem dan mengancam keberlanjutan sumber daya ikan.
Karena itu, pemerintah pusat mengajak pemerintah provinsi, kabupaten/kota, TNI, Polri, pelaku usaha dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga laut.
JANGAN CEMBURU, KITA HARUS BEKERJA SAMA
Dalam sambutannya, Trenggono juga menyinggung perkembangan ekonomi Tiongkok yang menurutnya sangat pesat dalam beberapa dekade terakhir.
Ia mengajak Indonesia melihat kerja sama dengan Tiongkok sebagai peluang untuk membangun kekuatan ekonomi nasional, bukan sekadar melihat investasi asing sebagai ancaman.
Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya alam dan wilayah laut yang besar, sementara negara lain membutuhkan bahan baku dan sumber daya tersebut.
“Tanpa kita, mereka tidak bisa juga hebat. Itulah kira-kira yang dilakukan oleh Bapak Presiden. Kita bekerja sama,” ujarnya.
Trenggono menegaskan, kerja sama Indonesia–Tiongkok di sektor kelautan tidak hanya menyangkut penangkapan ikan.
“Tidak hanya menangkap ikan, tetapi banyak sektor yang bisa kita kembangkan,” katanya.
Dari Tual, pemerintah kini menaruh target besar: menjadikan potensi laut Maluku sebagai kekuatan ekonomi baru melalui investasi, industri pengolahan, budidaya, rumput laut dan ekonomi biru.
Dan Trenggono ingin ketika kembali ke Maluku dalam satu hingga dua tahun mendatang, perubahan itu sudah terlihat nyata—Tual bergerak menjadi salah satu kota industri perikanan utama di Maluku.
0 Komentar