Acara yang dikemas dalam format dialog dan diskusi tersebut menghadirkan Salman Faris Alkatiri secara langsung untuk berbagi pengalaman, proses kreatif penulisan, serta gagasan yang melatarbelakangi lahirnya novel tersebut. Kegiatan ini turut dihadiri kalangan pegiat literasi, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat yang memiliki perhatian terhadap dunia kepenulisan.
Dalam pemaparannya, Salman menjelaskan bahwa "Ingatan Terakhir Gaza" tidak hanya menghadirkan sebuah karya fiksi, tetapi juga menjadi medium untuk menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan kepedulian terhadap tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina. Novel tersebut mengangkat kisah yang terinspirasi dari perjuangan rakyat Gaza dalam mempertahankan harapan di tengah berbagai keterbatasan.
Menurutnya, sastra memiliki kekuatan untuk menghadirkan realitas kemanusiaan melalui pendekatan yang lebih emosional sehingga mampu menggugah kesadaran pembaca. Ia berharap karya tersebut dapat menjadi ruang refleksi bagi generasi muda untuk memahami pentingnya solidaritas dan nilai kemanusiaan universal.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta yang membahas teknik menulis, proses riset, hingga peran literasi dalam membangun kesadaran sosial masyarakat.
Kegiatan launching novel ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat budaya literasi di Kota Tual dan Kepulauan Kei. Para peserta menyambut positif hadirnya karya sastra dari putra daerah yang mampu mengangkat isu global dengan pendekatan yang dekat dan menyentuh.
Melalui "Ingatan Terakhir Gaza", Salman Faris Alkatiri berharap sastra dapat menjadi jembatan yang menghubungkan pembaca dengan nilai-nilai kemanusiaan, sekaligus menjaga ingatan kolektif tentang perjuangan dan harapan masyarakat Palestina.
0 Komentar