Menurutnya, perayaan tahun ini tampil berbeda dan lebih substansial. Tidak sekadar seremoni tahunan, Hardiknas 2026 menjelma menjadi panggung ekspresi budaya lokal Kei yang melibatkan ribuan pelajar dan masyarakat.
“Kami dari Pemuda Muhammadiyah Maluku Tenggara melihat peringatan Hardiknas tahun ini sangat berkesan. Berbagai atraksi seni dan budaya lokal yang ditampilkan menunjukkan bahwa arah pendidikan kita semakin tepat, yakni pendidikan yang berakar pada budaya,” ungkap Ketua PD Pemuda Muhammadiyah.
Ia menilai, penguatan nilai kearifan lokal menjadi langkah strategis dalam membangun karakter generasi muda di tengah arus globalisasi yang semakin kuat.
“Penanaman nilai budaya sejak dini adalah investasi jangka panjang bagi jati diri generasi. Tarian tradisional, musik khas daerah, hingga pertunjukan budaya oleh para pelajar menjadi media efektif dalam mentransfer nilai-nilai luhur kepada generasi Z dan Alpha di Malra,” tambahnya.
Lebih lanjut, pihaknya berharap momentum Hardiknas ini tidak berhenti sebagai perayaan semata, tetapi menjadi titik awal penguatan integrasi budaya dalam dunia pendidikan, baik melalui kurikulum maupun kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
“Pendidikan bukan hanya soal capaian akademik, tetapi juga tentang pembentukan karakter yang beradab dan mencintai budayanya. Semangat Merdeka Belajar harus berjalan beriringan dengan semangat mencintai budaya sendiri,” tegasnya.
Dengan semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap warisan leluhur, Hardiknas 2026 di Maluku Tenggara menjadi simbol bahwa pendidikan dan budaya dapat berjalan selaras dalam membangun generasi masa depan.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026.
Majulah Pendidikan, Jayalah Maluku Tenggara
0 Komentar