Diskusi ini dimoderatori oleh Luther Chaky Rahayaan, dengan menghadirkan sejumlah narasumber di antaranya Plt Kepala Dinas Pendidikan Malra Bin Raudha Arif Hanoeboen, Raja Faan, Patri Renwarin, Kepala Kantor Kementerian Agama Malra Ahmad Raharusun, serta Hyronimus J. S. Dumatubun.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Komite Nasional Pemuda Indonesia bersama OKP Cipayung Plus, komunitas pendidikan, serta sejumlah organisasi kemasyarakatan dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Maluku Tenggara, sebagai ruang refleksi terhadap kondisi pendidikan di wilayah kepulauan.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Malra, Bin Raudha Arif Hanoeboen, dalam pemaparannya menegaskan bahwa tantangan geografis dan keterbatasan fiskal tidak boleh menjadi penghambat dalam menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan merata.
“Kita harus memastikan bahwa seluruh anak di Maluku Tenggara, baik di wilayah perkotaan maupun di pulau-pulau terluar, mendapatkan akses pendidikan yang sama. Transformasi pendidikan harus diarahkan pada pemerataan layanan, peningkatan kualitas guru, serta pemanfaatan teknologi sebagai jembatan atas keterbatasan geografis,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa sinergi antara pemerintah, organisasi kepemudaan, serta masyarakat menjadi kunci utama dalam mendorong kemajuan pendidikan berbasis kepulauan.
“Kolaborasi seperti ini penting untuk menghadirkan solusi nyata. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat,” tambahnya.
Diskusi ini diharapkan mampu melahirkan gagasan strategis yang dapat ditindaklanjuti menjadi kebijakan konkret dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Maluku Tenggara, khususnya di wilayah kepulauan yang masih menghadapi berbagai keterbatasan.
0 Komentar