Tradisi warisan leluhur Kei ini menjadi salah satu atraksi budaya dalam rangkaian Festival Pesona Meti Kei (FPMK) 2026, Kamis (22/10/2026).
Bukan sekadar aktivitas menangkap ikan, Wer Warat memperlihatkan bagaimana masyarakat Kei memanfaatkan fenomena alam sekaligus menjaga tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung Bupati Maluku Tenggara Muhammad Thaher Hanubun, didampingi Wakil Bupati Charlos Viali Rahantoknam, Ketua DPRD Stepanus Layanan, unsur Forkopimda serta sejumlah pimpinan OPD.
Ratusan warga turut ambil bagian, termasuk tenaga pendidik, siswa-siswi, serta masyarakat dari Papua dan Kepulauan Aru. Suasana semakin meriah dengan penampilan tarian Meti Kei dan Goyang MTH sebelum masyarakat bersama-sama menuju kawasan pesisir.
Puncak kegiatan berlangsung ketika Bupati Thaher Hanubun bersama rombongan turun ke laut membawa tombak. Ikan yang telah terperangkap dalam perangkap sederhana berbahan tali dan daun kelapa kemudian ditangkap secara bersama-sama.
Bagi Bupati, Wer Warat merupakan kekayaan budaya Kei yang tidak boleh hilang di tengah perkembangan zaman.
“Ini warisan leluhur yang harus dilestarikan dan diperkenalkan kepada dunia sebagai daya tarik wisata,” tegasnya.
Menurutnya, Kepulauan Kei memiliki kekuatan pariwisata yang tidak hanya bertumpu pada keindahan alam, tetapi juga pada budaya dan keberagaman masyarakatnya.
“Kei adalah surga dengan alam, budaya dan keberagaman yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Bupati juga memberikan apresiasi kepada masyarakat Ohoi Elar Lamagoran dan Ohoi Danar Sare yang bergotong royong mempersiapkan dan menarik Wer Warat hingga kegiatan dapat berlangsung meriah.
Tradisi ini sekaligus memperlihatkan bahwa Meti Kei bukan hanya fenomena surutnya air laut, tetapi sebuah panggung budaya yang hidup.
Dari laut, masyarakat Kei mempertahankan warisan leluhur; dari tradisi itu pula, potensi pariwisata budaya dibuka untuk dikenal lebih luas hingga mancanegara.
0 Komentar