Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Bikin Haru! Anak-anak Presentasi Masakan Tradisional Pakai Bahasa Kei


Malra, liputan21.com — Suasana penuh kebanggaan budaya terlihat di SD Inpres Rerean, Kecamatan Kei Besar Selatan Barat, saat siswa-siswi kelas VI tampil memperkenalkan masakan tradisional menggunakan Bahasa Kei dalam program bertajuk “Literasi Budaya Berbasis Menu Tradisional dan Pelestarian Bahasa Kei.”

Program ini menjadi salah satu inovasi pembelajaran berbasis budaya lokal yang memadukan literasi, pelestarian bahasa daerah, seni kerajinan tangan, hingga pengenalan makanan tradisional kepada generasi muda.

Tak sekadar presentasi biasa, para siswa tampil percaya diri mengenalkan berbagai menu tradisional khas Kei menggunakan Bahasa Kei sebagai bahasa utama. Mereka juga menyajikan makanan memakai kamboti dari anyaman daun kelapa, lengkap dengan topi tradisional hasil karya bersama para siswa dan guru.

Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Kepala SD Inpres Rerean, Umar Fakoubun, S.Pd, bersama dewan guru, orang tua murid, dan siswa kelas VI. Seluruh proses persiapan, mulai dari pembuatan anyaman kamboti, topi tradisional, hingga latihan presentasi budaya dilakukan secara gotong royong.

Program literasi budaya ini diprakarsai oleh Christin Rumlety selaku Perancang Program Literasi dan Numerasi SD Inpres Rerean yang bekerja sama dengan wali kelas VI, Diana Sedubun, serta Guru Bahasa Daerah, Fekon Ohoirat.

Dalam kegiatan tersebut, Fekon Ohoirat dipercaya sebagai Dewan Juri Bahasa Kei, sementara penilaian umum empat kriteria dilakukan langsung oleh Christin Rumlety.

Christin Rumlety mengatakan, penggunaan Bahasa Kei dalam presentasi masakan tradisional bukan sekadar tentang berbicara, tetapi menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya masyarakat Kei.

“Menggunakan Bahasa Kei dalam presentasi masakan tradisional bukan hanya tentang berbicara, tetapi tentang menjaga identitas, menghormati leluhur, dan merawat warisan budaya agar tetap hidup di generasi muda,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa keberanian anak-anak memperkenalkan makanan tradisional dengan Bahasa Kei menjadi bukti bahwa bahasa daerah masih hidup dan layak dibanggakan.

“Lewat keberanian anak-anak memperkenalkan makanan tradisional menggunakan Bahasa Kei, kita melihat bahwa bahasa daerah bukan untuk dilupakan, melainkan untuk dibanggakan dan diwariskan,” tambahnya.

Sementara itu, Diana Sedubun mengapresiasi semangat kerja sama seluruh pihak dalam menghidupkan kembali budaya Kei di lingkungan sekolah.

Menurutnya, pendidikan tidak hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga tentang bagaimana anak-anak mengenal akar budaya dan identitas daerahnya sendiri sejak dini.
Program ini pun mendapat apresiasi dari para orang tua murid yang ikut hadir menikmati makanan tradisional bersama siswa dan guru dalam suasana penuh kekeluargaan.

Kegiatan budaya tersebut menjadi bukti bahwa sekolah di wilayah kepulauan mampu menghadirkan pembelajaran kreatif, inovatif, dan tetap berakar kuat pada budaya lokal.
Sebab budaya akan tetap hidup ketika bahasa, adat, dan tradisi terus tumbuh dalam keseharian anak-anak Kei.

Posting Komentar

0 Komentar