Dalam penyampaiannya, Luther Chaky Rahayaan mengenang bagaimana pola pendidikan pada masa itu terbilang keras, di mana siswa “digodok” dengan disiplin tinggi, bahkan tidak jarang mendapatkan hukuman fisik dari guru. Namun demikian, kondisi tersebut tetap mendapat dukungan penuh dari para orang tua.
“Dulu, walaupun siswa dididik dengan cara yang keras, orang tua tetap mendukung pihak sekolah karena mereka percaya itu bagian dari proses membentuk karakter,” ujarnya.
Ia juga menceritakan pengalaman perjalanan menuju sekolah di wilayah Tamngil, Kei Besar, yang harus ditempuh dengan berjalan kaki hingga puluhan kilometer setiap hari.
“Kami harus berjalan kaki puluhan kilometer untuk sampai ke sekolah. Itu sudah menjadi hal biasa waktu itu,” kenangnya.
Menurutnya, kondisi tersebut sangat berbeda dengan saat ini, di mana akses pendidikan sudah jauh lebih mudah dengan dukungan infrastruktur dan transportasi yang memadai.
“Sekarang semua sudah lebih mudah diakses. Ini menjadi kemajuan yang harus kita syukuri, sekaligus tantangan untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan,” tambahnya.
Diskusi ini menjadi ruang refleksi bersama tentang perjalanan panjang dunia pendidikan di Maluku Tenggara, sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga semangat belajar di tengah kemudahan yang ada saat ini.
0 Komentar