Lomba ini menghadirkan para siswa SD yang tampil dengan penuh semangat, kreativitas, dan ekspresi seni. Gerakan yang ditampilkan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan ikut memperkenalkan budaya Kei melalui kreativitas.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Maluku Tenggara, Bin Raudha Arif Hanoeboen, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk melibatkan anak-anak dalam perayaan budaya dan pariwisata daerah.
Menurutnya, keterlibatan siswa sejak usia sekolah diharapkan dapat menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya Kei sekaligus memberikan ruang bagi mereka untuk mengembangkan bakat dan kreativitas.
“Anak-anak harus diberikan ruang untuk berekspresi. Melalui kegiatan seperti ini, mereka tidak hanya tampil, tetapi juga belajar mencintai budaya dan daerahnya,” kata Bin Raudha.
Ia menambahkan, pendidikan kebudayaan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Berbagai kegiatan seni dan budaya yang melibatkan siswa menjadi bagian penting dalam membangun karakter sekaligus memperkuat identitas generasi muda Maluku Tenggara.
Lomba Goyang Meti Kei tingkat SD juga menjadi bagian dari upaya menjadikan FPMK sebagai ruang bersama yang melibatkan masyarakat, termasuk dunia pendidikan.
Dengan semangat kreativitas anak-anak, budaya Kei tidak hanya dipertontonkan sebagai warisan masa lalu, tetapi terus dihidupkan dan dikenalkan kepada generasi berikutnya.
FPMK 2026 pun bukan sekadar festival. Dari panggung anak-anak, budaya Kei terus bergerak, tumbuh, dan diwariskan.
0 Komentar