Dalam sambutannya, Bupati Maluku Tenggara Muhamad Thaher Hanubun menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial semata.
Menurutnya, Maulid harus menjadi momentum untuk kembali menghidupkan keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat hingga pemerintahan.
“Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar kegiatan seremonial dan bukan pula hanya mengenang perjalanan sejarah kelahiran Rasulullah SAW. Lebih dari itu, Maulid harus menjadi momentum untuk menghidupkan kembali keteladanan Rasulullah SAW,” ujar Thaher.
Ia menekankan, Rasulullah SAW telah memberikan teladan tentang kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang, keadilan, penghormatan terhadap sesama serta kemampuan membangun persaudaraan di tengah perbedaan.
Nilai tersebut, kata Bupati, sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Maluku Tenggara yang memiliki warisan budaya Ain Ni Ain.
“Ain Ni Ain bukan hanya ungkapan budaya. Ain Ni Ain adalah kekuatan sosial dan moral masyarakat Kei,” tegasnya.
Menurut Thaher, semangat Ain Ni Ain tercermin dalam sikap saling membantu, saling menjaga, ikut merasakan kesusahan maupun kedukaan sesama, serta menyelesaikan setiap perbedaan melalui musyawarah, kekeluargaan dan kebijaksanaan.
Bupati menilai nilai-nilai tersebut memiliki kedekatan yang kuat dengan ajaran Rasulullah SAW tentang persaudaraan dan kehidupan yang damai.
“Persaudaraan adalah kekuatan kita. Kedamaian adalah modal pembangunan kita,” katanya.
Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat Maluku Tenggara menjaga hubungan persaudaraan tanpa membiarkan perbedaan pilihan, kepentingan, kelompok maupun pandangan memutus tali silaturahmi.
“Kita boleh berbeda pilihan, tetapi jangan sampai berbeda dalam rasa hormat. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan sampai kehilangan rasa persaudaraan. Kita boleh berbeda latar belakang, tetapi kita tetap satu sebagai basudara di Tanah Kei,” pesan Thaher.
Selain persaudaraan, Bupati juga memberikan perhatian khusus terhadap tantangan yang dihadapi generasi muda di tengah perkembangan teknologi dan media sosial.
Ia mengingatkan bahwa media sosial dapat menjadi sarana menyebarkan kebaikan, namun juga berpotensi menjadi ruang penyebaran fitnah, ujaran kebencian, provokasi dan perpecahan apabila tidak digunakan secara bijaksana.
Karena itu, orang tua, guru, tokoh agama dan seluruh elemen masyarakat diminta bersama-sama membentengi generasi muda dengan iman, ilmu dan akhlak.
“Keberanian bukan berarti bebas berkata kasar. Kebebasan bukan berarti bebas menyakiti orang lain. Kemajuan bukan berarti meninggalkan nilai-nilai agama dan budaya,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat menjadikan media sosial sebagai ruang untuk menyebarkan informasi yang benar, memberikan edukasi serta memperkuat semangat membangun Maluku Tenggara.
Lebih jauh, Thaher mengingatkan bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya melalui pembangunan infrastruktur dan fisik.
Menurutnya, pembangunan manusia yang beriman, berilmu, berakhlak dan memiliki kepedulian sosial merupakan bagian penting dalam membangun masa depan Maluku Tenggara.
“Sebab sesungguhnya kekuatan terbesar Maluku Tenggara bukan hanya terletak pada sumber daya alam yang kita miliki. Kekuatan terbesar kita adalah persatuan masyarakatnya,” katanya.
Pada momentum Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H tersebut, Bupati juga mengajak masyarakat melakukan introspeksi diri dan menjadikan akhlak Rasulullah SAW sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mendorong masyarakat untuk berubah dari yang mudah marah menjadi lebih sabar, dari suka menyalahkan menjadi saling menguatkan, dari mudah terpecah menjadi semakin bersatu, serta dari perselisihan menuju perdamaian.
Menutup sambutannya, Bupati Thaher mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama merawat Ain Ni Ain, memperkuat persaudaraan, menjaga kerukunan dan memelihara kedamaian di Tanah Kei.
“Rasulullah SAW teladan kita. Ain Ni Ain perekat kita. Persaudaraan dan kedamaian kekuatan Maluku Tenggara,” pungkasnya.
Ia berharap nilai-nilai keagamaan, adat dan budaya terus menjadi fondasi dalam membangun Kabupaten Maluku Tenggara yang religius, harmonis, aman, maju dan bermartabat.
0 Komentar