“Beta Kei. Walau berbeda-beda suku di tanah Kei, tetapi sudah menetap, maka semua warga Kei,” tegas Thaher.
Menurutnya, perbedaan suku, latar belakang dan asal-usul tidak boleh menjadi alasan untuk membangun sekat di tengah masyarakat. Sebaliknya, keberagaman harus menjadi kekuatan untuk mempererat persaudaraan dan menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat di tanah Kei.
Bupati mengajak seluruh masyarakat untuk terus memelihara nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur Kei. Tradisi, adat istiadat, budaya, serta semangat Ain Ni Ain harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.
“Kita harus saling menyayangi, saling menghargai dan saling menjaga. Perbedaan bukan untuk memisahkan kita, tetapi menjadi kekuatan untuk hidup bersama sebagai orang Kei,” ujarnya.
Thaher berharap semangat “Beta Kei” tidak berhenti sebagai ungkapan, tetapi diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat diharapkan terus menjaga tradisi dan budaya Kei, menghormati adat, memperkuat hubungan kekeluargaan serta menumbuhkan rasa saling menyayangi di tengah kehidupan sosial.
Ia menegaskan, kemajuan daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kuatnya persaudaraan dan karakter masyarakat dalam menjaga nilai-nilai budaya.
“Mari kita jaga tanah Kei ini bersama. Kita jaga adat dan tradisi kita, kita saling menyayangi, saling menghormati dan hidup berdampingan dengan damai. Karena tanah Kei adalah rumah kita bersama,” harapnya.
Semangat tersebut menjadi pesan penting bagi seluruh masyarakat bahwa siapa pun yang telah menetap dan menjadi bagian dari kehidupan di tanah Kei adalah bagian dari keluarga besar masyarakat Kei.
Beta Kei adalah semangat persatuan—berbeda asal-usul, tetapi satu dalam persaudaraan, saling menyayangi dan bersama-sama menjaga tanah Kei untuk generasi yang akan datang.
0 Komentar