Menurut Christin, penggunaan Bahasa Kei bukan sekadar sarana komunikasi saat tampil di depan kelas, namun memiliki makna yang lebih mendalam dalam menjaga identitas budaya daerah.
“Menggunakan Bahasa Kei dalam presentasi masakan tradisional bukan hanya tentang berbicara, tetapi tentang menjaga identitas, menghormati leluhur, dan merawat warisan budaya agar tetap hidup di generasi muda,” ujarnya.
Ia menilai keberanian anak-anak memperkenalkan makanan tradisional dengan Bahasa Kei menjadi bukti bahwa bahasa daerah masih memiliki tempat penting di tengah perkembangan zaman.
“Lewat keberanian anak-anak memperkenalkan makanan tradisional dengan Bahasa Kei, kita melihat bahwa bahasa daerah bukan untuk dilupakan, melainkan untuk dibanggakan dan diwariskan,” tambahnya.
Kegiatan tersebut mendapat apresiasi karena dinilai mampu menanamkan rasa cinta budaya sejak dini kepada para siswa. Selain mengenalkan kekayaan kuliner lokal, para pelajar juga dilatih untuk tetap bangga menggunakan bahasa ibu dalam kehidupan sehari-hari.
Christin berharap budaya Kei akan terus hidup melalui peran anak-anak sebagai generasi penerus.
“Karena budaya akan tetap kuat ketika bahasa, adat, dan tradisi terus hidup dalam keseharian anak-anak kita,” tutupnya.
0 Komentar