Seruan tersebut disampaikan Bupati kepada awak media di halaman Kantor Bupati, Senin (6/4/2026), sebagai respons atas konflik antarwarga yang menyebabkan korban jiwa, kerusakan rumah, hingga memaksa sejumlah warga mengungsi.
Menurut Hanubun, lagu “Vadad vil-vil” bukan sekadar warisan budaya, melainkan simbol nilai kehidupan masyarakat Kei yang menjunjung tinggi persaudaraan, persatuan, dan keharmonisan hidup bersama. Ia menegaskan pentingnya nilai-nilai tersebut untuk kembali dipahami dan diresapi oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Lagu Vadad vil-vil mengandung nilai-nilai luhur yang sangat bermakna bagi kita masyarakat Kei. Ini harus dipahami dan diresapi oleh semua,” tegasnya.
Bupati juga menekankan peran penting orang tua dan generasi tua dalam mentransmisikan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Lagu daerah, menurutnya, harus kembali diajarkan sebagai bagian dari pendidikan karakter sekaligus penguatan identitas lokal.
Dalam upaya pemulihan pasca konflik, Hanubun berharap nilai-nilai yang terkandung dalam “Vadad vil-vil” dapat menjadi perekat sosial yang mampu memperbaiki hubungan antarwarga serta mencegah konflik serupa terulang di masa mendatang.
“Pahami itu, maknai, dan resapi bagaimana kita hidup bersama sebagai masyarakat Kei. Itu yang paling penting,” pungkasnya.
Seruan ini menjadi pengingat bahwa di tengah dinamika dan tantangan sosial, kearifan lokal tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga kedamaian, memperkuat persaudaraan, serta merawat keutuhan masyarakat Kei.
0 Komentar