Tual, liputan21.com – Pembina Gerakan Edukasi Perempuan Kei sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Maluku Tenggara, Raudha Arif Hanoeboen, menegaskan bahwa pendidikan perempuan merupakan kerja sunyi yang memiliki dampak besar bagi masa depan keluarga dan generasi berikutnya.
Hal tersebut disampaikannya saat membuka diskusi Nobar dan Bedah Film “Mars: Mimpi Ananda Raih Semesta” yang digelar di Kaffe 21 Kota Tual, Sabtu malam, pukul 19.00 WIT.
Raudha mengaku sangat mengapresiasi inisiatif anak-anak muda yang menggagas Gerakan Edukasi Perempuan Kei secara mandiri, tanpa anggaran dan tanpa kepentingan tertentu.
Menurutnya, di tengah kondisi efisiensi anggaran daerah, gerakan berbasis kesadaran dan kepedulian sosial seperti ini justru menjadi kekuatan besar.
“Saya merasa optimis bahwa Dinas Pendidikan tidak berjalan sendiri. Ada anak-anak muda hebat yang bergerak dengan semangat edukasi, tanpa proposal dan tanpa anggaran. Ini murni gerakan kesadaran,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Gerakan Edukasi Perempuan Kei lahir bukan secara tiba-tiba, melainkan berangkat dari kegelisahan bersama tentang pentingnya peran perempuan, khususnya ibu, dalam pendidikan anak.
Meski secara umum masyarakat Kei telah memberi ruang cukup baik bagi perempuan, Raudha mengakui masih ada tantangan sosial dan budaya yang harus dijawab oleh perempuan itu sendiri.
Dalam refleksinya terhadap film Mars: Mimpi Ananda Raih Semesta, Raudha menyoroti gambaran feminisme khas Indonesia yang berbeda dengan Barat. Feminisme di Indonesia, menurutnya, tumbuh dari realitas sosial dan budaya, bukan dari perlawanan verbal atau konflik terbuka.
“Perempuan dalam film ini tidak berteriak di jalanan, tidak mendeklarasikan dirinya sebagai pejuang. Tapi ia melakukan perlawanan melalui tindakan sehari-hari, melalui pengorbanan, dan melalui keputusan untuk menyekolahkan anaknya setinggi mungkin,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa keputusan seorang ibu untuk memperjuangkan pendidikan anak perempuan merupakan bentuk perlawanan paling radikal dalam konteks sosial, karena pendidikan anak perempuan bukan investasi instan, melainkan investasi jangka panjang lintas generasi.
Raudha berharap, melalui gerakan ini, akan tumbuh kesadaran kolektif bahwa perempuan bukan sekadar objek dalam sistem sosial, melainkan subjek penuh yang mampu mengambil keputusan penting demi masa depan keluarga dan masyarakat.
Kegiatan nobar dan bedah film ini menjadi ruang refleksi bersama tentang peran perempuan, ibu, dan pendidikan dalam membangun generasi Maluku Tenggara yang lebih berdaya dan berkeadilan.


0 Komentar