Tual, liputan 21.com – Gerakan Edukasi Perempuan Kei menggelar kegiatan Nonton Bareng (Nobar) dan Bedah Film “Mars: Mimpi Ananda Raih Semesta” di Kaffe 21 Kota Tual, Sabtu malam, pukul 19.00 WIT. Kegiatan ini mengangkat kisah inspiratif tentang perjuangan seorang ibu dalam keterbatasan demi mewujudkan mimpi pendidikan anaknya hingga menembus Universitas Oxford.
Hadir dalam kegiatan tersebut Pembina Gerakan Edukasi Perempuan Kei sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Maluku Tenggara, Raudha Arif Hanoeboen, Komisioner KPU Maluku Tenggara Assyujudiah Arief Hanubun, serta Komisioner Bawaslu Kota Tual Rahman Raharusun, bersama peserta dari berbagai kalangan.
Dalam sesi diskusi, sejumlah peserta menyampaikan pandangan dan harapan. Sugeng menegaskan pentingnya dukungan terhadap edukasi perempuan di Kepulauan Kei sebagai fondasi kemajuan pendidikan.
Bahrum Ingratubun mengusulkan agar tokoh perempuan Kei, seperti Nendit Cakmas, dapat dimasukkan dalam kurikulum lokal sebagai simbol dan inspirasi bagi generasi muda.
Sementara Rani berharap agar tokoh-tokoh perempuan lebih tampil efektif di ruang publik serta forum Gerakan Edukasi Perempuan Kei dapat terus eksis dan berkembang di daerah.
Pembina Gerakan Edukasi Perempuan Kei, Raudha Arif Hanoeboen, dalam arahannya menekankan bahwa keberhasilan program pendidikan tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran atau kebijakan pemerintah, tetapi sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat.
“Program sehebat apa pun tidak akan berjalan maksimal tanpa keterlibatan masyarakat. Kehadiran kelompok-kelompok peduli seperti Gerakan Edukasi Perempuan Kei menjadi kekuatan penting dalam pembangunan pendidikan,” ujarnya.
Raudha juga menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara telah melakukan berbagai pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan, listrik, dan akses internet.
Tantangan selanjutnya, menurutnya, adalah mengoptimalkan pembangunan tersebut melalui edukasi dan perubahan pola pikir masyarakat, khususnya terkait pendidikan anak perempuan.
Ia mengakui bahwa budaya patriarki dan pandangan yang masih memprioritaskan pendidikan anak laki-laki masih ditemui di beberapa wilayah. Karena itu, gerakan edukasi harus terus dilakukan hingga ke tingkat akar rumput.
“Jika perempuan tidak berpendidikan, maka kemiskinan berpotensi diwariskan. Perubahan hanya bisa terjadi jika perempuan dan masyarakat berani mengambil peran,” tegasnya.
Raudha juga menyatakan komitmen Dinas Pendidikan Kabupaten Maluku Tenggara untuk terus membuka ruang kolaborasi dengan komunitas dan kelompok masyarakat. Ia mengajak semua pihak untuk memulai gerakan dari kelompok-kelompok kecil sebagai langkah awal menuju perubahan yang lebih besar.
Kegiatan nobar dan bedah film ini diharapkan menjadi pemantik lahirnya gerakan yang berkelanjutan dalam mendorong pendidikan perempuan di Kepulauan Kei, sekaligus menjadi ruang refleksi dan konsolidasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

0 Komentar