Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Desa Ohoidertawun Jadi Pusat Moderasi Beragama: Bupati Malra Dorong Generasi Muda Hidupkan Nilai Cinta & Kerukunan

Desa Ohoidertawun Jadi Pusat Moderasi Beragama: Bupati Malra Dorong Generasi Muda Hidupkan Nilai Cinta & Kerukunan


Maluku Tenggara , Liputan 21.com – Desa Ohoidertawun, yang dikenal sebagai salah satu desa moderasi beragama di Kabupaten Maluku Tenggara, kini menjadi pusat kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Berbasis Cinta dan Kerukunan. Kegiatan ini lahir dari kolaborasi Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Maluku Tenggara, berlangsung 12–14 September 2025.

Acara dibuka dengan penuh khidmat dan dihadiri langsung oleh Bupati Maluku Tenggara, M. Thaher Hanubun, Rektor IAKN Ambon, Kepala Kanwil Kemenag Maluku Dr. H. Yamin, Forkopimda, tokoh adat, imam, pendeta, serta para pemuda dari lintas iman.

Dalam sambutannya, Bupati Thaher menegaskan bahwa kunci merawat perdamaian di Maluku Tenggara adalah perpaduan antara adat, pemerintah, dan agama.

 “Adat menyatukan kita, agama memperkuat kita, dan pemerintah memfasilitasi kita. Tiga tungku ini tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Jika duduk sama rendah, maka semua masalah bisa selesai dengan damai,” tegasnya.

Bupati juga mengingatkan generasi muda agar menanamkan nilai cinta sejak dini—cinta kepada Tuhan, sesama manusia, lingkungan, hingga tanah air. “Damai tidak bisa hanya dikampanyekan, tetapi harus mengalir melalui silaturahmi, persaudaraan, dan kearifan lokal,” tambahnya.

Sementara itu, Kakanwil Kemenag Maluku, Dr. H. Yamin, memberi apresiasi khusus atas penetapan Ohoidertawun sebagai desa binaan moderasi beragama. Ia menegaskan bahwa PKM berbasis cinta ini bukan sekadar teori, melainkan aksi nyata yang harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

“Keragaman adalah kekuatan. Lewat program ini, kita ingin generasi muda tumbuh sebagai pribadi yang peduli, toleran, dan cinta damai,” ujarnya.

Selama lima hari, para remaja dan pemuda dari berbagai latar belakang akan mengikuti serangkaian kegiatan: pelatihan seni, penanaman pohon sebagai aksi ekologi, hingga pentas budaya bersama. Aktivitas ini diharapkan menjadi ruang belajar sekaligus sarana mempererat solidaritas di tengah keberagaman.

Kegiatan PKM ini pun mendapat apresiasi luas karena tidak hanya menguatkan moderasi beragama di tingkat lokal, tetapi juga menjadi model yang bisa diterapkan di seluruh Maluku, bahkan Indonesia.




Posting Komentar

0 Komentar