Pesan itu menjadi penekanan utama Bupati Thaher dalam sambutannya pada momentum peresmian masjid yang telah menjadi harapan dan kebanggaan masyarakat Banda tersebut.
Bupati mengingatkan bahwa sebuah masjid tidak cukup hanya berdiri megah secara fisik. Lebih dari itu, masjid harus hidup dengan aktivitas ibadah, pendidikan keagamaan, pembinaan generasi muda, serta menjadi pusat tumbuhnya persaudaraan dan kepedulian sosial.
"Ketika batu pertama diletakkan, ada harapan yang ditanamkan. Hari ini, ketika masjid diresmikan, ada amanah yang harus kita lanjutkan," tegasnya.
Perjalanan pembangunan Masjid Al Mukaromah memiliki makna tersendiri. Peletakan batu pertama dilakukan pada 4 November 2019. Tujuh tahun kemudian, tepat 7 November 2026, harapan masyarakat itu akhirnya terwujud melalui peresmian masjid.
Bupati menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada panitia pembangunan, para dermawan, pekerja, serta seluruh masyarakat yang telah memberikan kontribusi, baik berupa materi, tenaga, pikiran maupun doa.
Menurutnya, setiap bentuk pengorbanan memiliki nilai tersendiri di hadapan Allah SWT dan diharapkan menjadi amal jariah bagi seluruh pihak yang terlibat.
Ia juga mengajak masyarakat mendoakan para pendahulu yang telah berpulang, tetapi semasa hidup pernah menyimpan harapan agar masjid tersebut dapat berdiri dan dimanfaatkan oleh generasi penerus.
TIGA PESAN PENTING BUPATI
Dalam sambutannya, Bupati Thaher menitipkan tiga pesan penting agar keberadaan Masjid Al Mukaromah benar-benar memberikan dampak bagi kehidupan masyarakat.
Pertama, masjid harus dimakmurkan dengan ibadah yang membentuk akhlak.
Bupati menegaskan, nilai-nilai ibadah harus tercermin dalam perilaku sehari-hari. Salat mengajarkan kedisiplinan, puasa mendidik pengendalian diri, sedangkan zakat dan sedekah menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Pesan tersebut juga ditujukan kepada aparatur pemerintah agar membawa nilai-nilai keagamaan ke dalam pelayanan publik.
Ia meminta seluruh aparatur untuk mendengarkan keluhan masyarakat, memperlakukan setiap warga secara adil, serta menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan penuh amanah.
Kedua, masjid harus menjadi tempat tumbuhnya generasi pencinta Al-Qur'an dan ilmu pengetahuan.
Bupati mengajak para orang tua membiasakan anak-anak mengenal masjid sejak dini, belajar mengaji, memahami adab, serta menghormati guru dan orang tua.
Kepada pengurus masjid, ia berpesan agar memberikan ruang bagi anak-anak untuk belajar dengan pendekatan penuh kasih sayang dan kesabaran.
Bupati berharap masjid tidak hanya melahirkan generasi yang kuat dalam iman, tetapi juga memiliki ilmu pengetahuan, akhlak mulia, dan keterampilan untuk menghadapi tantangan masa depan.
Generasi seperti inilah yang menjadi fondasi penting dalam mewujudkan Maluku Tenggara yang mandiri dan cerdas.
Ketiga, masjid harus menjadi perekat persaudaraan dan kepedulian sosial.
Mengangkat filosofi kehidupan masyarakat Kei, Bupati mengajak seluruh masyarakat menghidupkan semangat Ain Ni Ain dalam tindakan nyata.
Mulai dari menjenguk warga yang sakit, membantu masyarakat yang mengalami kesulitan, memperhatikan pendidikan anak-anak, hingga menjaga hubungan baik dengan seluruh saudara tanpa membedakan agama dan keyakinan.
Menurutnya, perbedaan pendapat harus diselesaikan melalui musyawarah, sementara perselisihan tidak boleh diwariskan kepada generasi berikutnya.
"Kehadiran masjid hendaknya membuat lingkungan sekitarnya semakin tenteram dan masyarakatnya semakin saling peduli," menjadi pesan penting yang disampaikan Bupati.
MASJID, PERSAUDARAAN, DAN MASA DEPAN MALRA
Lebih jauh, Bupati mengingatkan bahwa semangat gotong royong yang mengantarkan pembangunan Masjid Al Mukaromah harus menjadi kekuatan bersama dalam membangun Kabupaten Maluku Tenggara.
Ia mengajak masyarakat, pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, dan generasi muda untuk terus menjaga kebersamaan dalam semangat pembangunan daerah.
Melalui semangat Setara Sejahterakan Negeri, Bupati menekankan pentingnya hubungan yang kuat antara keimanan, pendidikan, dan kepedulian sosial agar pembangunan benar-benar menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Secara khusus, Bupati juga berpesan kepada pengurus Masjid Al Mukaromah agar menjalankan amanah dengan ikhlas, tertib, dan terbuka, termasuk menjaga kebersihan, merawat fasilitas, serta mempertanggungjawabkan sumbangan jemaah secara baik.
Ia mengajak kaum muda untuk dilibatkan dalam pengelolaan dan kegiatan masjid sehingga tumbuh rasa memiliki serta tanggung jawab terhadap keberlangsungannya.
Menutup sambutannya, Bupati mengajak seluruh masyarakat menjadikan peresmian ini sebagai awal perjalanan panjang kebaikan.
Harapannya, Masjid Al Mukaromah semakin ramai oleh jemaah, semakin hidup dengan kegiatan pendidikan Al-Qur'an, serta semakin kuat menjadi pusat persaudaraan dan kepedulian masyarakat.
Setelah menyampaikan doa bersama, Bupati Muhamad Thaher Hanubun secara resmi meresmikan Masjid Al Mukaromah Banda dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim.
Tujuh tahun penantian telah berakhir. Kini, tantangan sesungguhnya berada di tangan seluruh masyarakat: menjaga, merawat, dan memakmurkan masjid agar kemegahan bangunannya sejalan dengan kemuliaan akhlak umatnya.
0 Komentar