Arahan tersebut disampaikan Wali Kota Tual di apel pagi gabungan seluruh ASN. mengatakan bahwa pembangunan daerah tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan fisik dan infrastruktur, tetapi harus berjalan seimbang dengan pembangunan manusia, khususnya pembinaan mental dan spiritual aparatur.
“Kita tidak hanya berkumpul sebagai aparatur pemerintah, tetapi sebagai hamba Tuhan yang ingin memperbaiki diri. Pembangunan Kota Tual tidak akan berhasil jika hanya membangun fisik dan infrastruktur, tetapi lupa membangun manusianya, terutama membangun jiwanya,” demikian arahan Wali Kota Tual yang ditindaklanjuti melalui Bagian Kesra.
Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Kota Tual mencanangkan Program Peningkatan Nilai-Nilai Spiritual ASN sebagai bagian dari upaya mewujudkan ASN yang berorientasi pada nilai BerAKHLAK, berintegritas, serta memiliki komitmen kuat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Tiga Pilar Pembinaan Spiritual ASN
Program tersebut mencakup tiga pilar utama yang disesuaikan dengan keyakinan masing-masing ASN.
Pertama, bagi ASN Muslim. Wali Kota menginstruksikan agar program penuntasan buta aksara Al-Qur’an dilaksanakan di masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD).
Setiap ASN Muslim yang belum mampu membaca Al-Qur’an diarahkan untuk mengikuti pembelajaran secara bertahap, mulai dari Iqra, Tahsin hingga tadarus bersama.
Kegiatan tersebut direncanakan dilaksanakan setiap pagi sebelum pelayanan dimulai dengan menyisihkan waktu sekitar 30 menit untuk pembinaan dan pembelajaran Al-Qur’an.
Kabag Kesra bersama para kepala OPD diminta mengawal pelaksanaan program tersebut dan melakukan evaluasi secara berkala setiap bulan.
“Jangan sampai ada ASN di Kota Tual yang beragama Islam tetapi belum bisa membaca Al-Qur’an. ASN harus menjadi contoh di tengah masyarakat,” tegas dalam arahan tersebut.
Selain itu, Pemerintah Kota Tual juga akan menghidupkan kembali pengajian rutin pimpinan OPD setelah Salat Ashar di Masjid Al-Mahmud Kota Tual, serta kegiatan pembinaan keagamaan yang dapat dilaksanakan di kantor maupun musala masing-masing OPD.
Kedua, bagi ASN Katolik. Wali Kota menetapkan agar setiap hari Kamis, ASN Katolik mengikuti Ibadah Misa di Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius Tual.
Kegiatan ini ditegaskan bukan sekadar agenda seremonial, tetapi menjadi ruang bagi ASN untuk memperkuat kehidupan rohani sehingga nilai kasih, kejujuran dan ketulusan dapat menjadi bagian dari pelaksanaan tugas pemerintahan.
Ketiga, bagi ASN Protestan. ASN Protestan diarahkan untuk mengikuti ibadah pembinaan rohani di Gereja Maranatha Tual.
Pembinaan tersebut diharapkan mampu memperkuat semangat pelayanan, persaudaraan serta kebersamaan di antara ASN.
Spiritual dan Integritas Berjalan Bersama
Pemerintah Kota Tual menegaskan bahwa program tersebut dirancang secara berkeadilan dengan memberikan ruang bagi setiap ASN untuk memperkuat kehidupan rohaninya sesuai agama dan keyakinan masing-masing.
Hal ini sejalan dengan nilai kebersamaan yang hidup di tengah masyarakat Tual, termasuk falsafah Ain Ni Ain dan nilai adat Larvul Ngabal yang menjunjung persatuan dan persaudaraan.
“Tual adalah rumah besar kita bersama. Tidak ada perbedaan, semua ASN kita bina rohaninya sesuai dengan agamanya masing-masing,” demikian arahan Wali Kota.
Menurutnya, pembangunan karakter aparatur harus menjadi bagian penting dalam reformasi pelayanan publik. ASN yang memiliki landasan spiritual yang kuat diharapkan mampu menjaga integritas dan menjauhi berbagai bentuk penyimpangan dalam pelayanan pemerintahan.
“ASN yang kuat imannya, akan kuat pula integritasnya. ASN yang rajin mengaji dan rajin beribadah, tidak akan tergoda untuk melakukan korupsi, pungli, dan tidak akan malas melayani masyarakat,” tegasnya.
Wali Kota kemudian menginstruksikan Kabag Kesra agar program pembinaan spiritual tersebut ditingkatkan kembali sebagai agenda rutin dan wajib, bukan sekadar kegiatan insidentil.
“Marilah kita bekerja dengan hati, melayani dengan iman,” pungkasnya.
0 Komentar